Di dalam sebuah gereja, kerajinan kita beribadah atau keaktifan kita dalam melayani ternyata belum tentu menjadi jaminan bahwa hati kita sudah benar-benar tunduk. Terkadang, ada penolakan yang tidak terlihat jelas, seperti kritik yang tajam atau rasa tidak setuju secara diam-diam terhadap visi yang sudah ditetapkan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa sikap seperti ini sebenarnya menjauh dari kehendak Allah bagi kita semua sebagai satu tubuh. Sering kali, akar masalahnya bukan pada apa yang kita lakukan, melainkan apa yang ada di dalam hati kita. Ada beberapa hal yang sering kali menghalangi kita untuk taat dan tunduk seperti merasa diri lebih pintar, lebih berpengalaman, atau lebih benar bahkan lebih mengetahui segala sesuatu dari pada pemimpin kitasendiri. Selain itu rasa sakit hati yang belum sembuh bisa membuat kita sulit percaya dan selalu curiga pada otoritasgembala kita, bahkan dalam diri timbul roh pemberontakan yang merupakan sebuah dorongan halus yang membuat kita sulit menerima teguran atau arahan yang membangun.
Namun perlu untuk kita sadari bahwa ketika kita sulit tunduk kepada gembala, masalah sebenarnya bukan antara kita dengan manusia, melainkan antara kita dengan Tuhan yang telah menetapkan otoritas tersebut atas diri gembala sidang. Tuhan merancang ketaatan bukan sebagai aturan organisasi yang kaku atau ketaatan buta yang menindas. Sebaliknya, ketaatan yang sejati lahir dari iman, kasih, dan kerendahan hati.
Dalam Ibrani 13:17 memberikan dasar yang kuat bahwa ketaatan dan ketundukan bukanlah sekadar aturan organisasi, melainkan prinsip rohani yang berakar pada kehendak Allah. Tuhan memberikan otoritas kepada gembala bukan karena kehebatan manusiawinya, melainkan agar mereka dapat berjaga-jaga atas jiwa jemaat dan bertanggung jawab atasnya di hadapan Tuhan. Karena itu ketika jemaat memilih untuk taat dan tunduk kepada otoritas gembala sidang, ada dampak luar biasa yang dirasakan bersama. Sebab melalui ketaatan dan ketundukan jemaat membuat gembala sidang dapat melayani dengan penuh sukacita dan bukan dengan keluh kesah. Saat seorang pemimpin melayani dengan sukacita, pelayanan menjadi lebih efektif, gereja bertumbuh dengan sehat, dan jemaat pun dapat menerima berkat rohani yang maksimal.
Karena itu sebagai jemaat di dalam gereja haruslah memiliki sikap taat dan tunduk, sebab dengan demikian gembala dapat menjalankan tugasnya dengan gembira, bukan dengan keluhan. Suasana sukacita inilah yang membuat pelayanan menjadi lebih efektif, gereja bertumbuh dengan sehat, dan kita sebagai jemaat dapat menerima berkat rohani yang paling maksimal.